Pertanggungjawaban Dewan Juri Pustaka Paripalana 2023

Manassa
0

Dinamika ilmu dan aktivitas di bidang pernaskahan telah berkembang dari masa ke masa. Jika pada masa kolonial ilmu filologi dan kajian terhadap naskah hanya menjadi milik orang-orang Belanda dan Eropa, setelah kemerdekaan para sarjana dari Indonesia mulai mengambil alih tugas akademis ini. Beberapa dekade terakhir, seiring dengan berdirinya Manassa pada tahun 1996, aktivitas di bidang pelestarian, penelitian, dan diseminasi naskah Nusantara terus berkembang. Akses terhadap naskah yang dahulunya sangat sulit dan berbiaya mahal, kini dapat dinikmati secara gratis melalui perangkat digital. Penelitian-penelitian yang dulunya didominasi oleh penelitian dalam bahasa-bahasa asing, saat ini banyak di antaranya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat luas, selain dengan semakin semaraknya penelitian dalam Bahasa Indonesia. Diseminasi pengetahuan yang dahulunya dibatasi oleh tembok kampus, kini telah terbuka seluas-luasnya di luar lingkungan universitas.

Kesadaran masyarakat terhadap naskah juga semakin tinggi, sebab advokasi untuk menjaga dan merawat naskah-naskah ini telah banyak disuarakan oleh pemerintah dan berbagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap warisan leluhur ini. Pertama kalinya pula dalam sejarah pascakemerdekaan, repatriasi warisan budaya menjadi program yang terus diupayakan secara serius oleh pemerintah.

Perkembangan-perkembangan studi dan perhatian terhadap naskah yang cukup menggembirakan ini tentu tidak dapat terlepas dari peran serta para pemangku kebijakan: instansi pemerintah, akademisi, praktisi, penerbit, media, komunitas, yang terus mengupayakan agar manuskrip dapat terpelihara baik wujud maupun isinya, agar akses terhadapnya semakin mudah, agar penelitiannya semakin maju dan berkembang, agar kesadaran masyarakat luas tentang nilai luhurnya semakin terpupuk.

Sejak tahun 2012, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) memberikan penghargaan kepada para pihak, baik individu maupun lembaga, yang telah berdedikasi dalam bidang pernaskahan Nusantara, yaitu Pustaka Paripalana, yang secara harfiah berarti "aktivitas pemeliharaan pustaka". Pemberian penghargaan Pustaka Paripalana ini diselenggarakan setiap 2 tahun, bertepatan dengan kegiatan Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara. Pada tahun 2023 ini, dengan bangga, Manassa mempersembahkan penghargaan Pustaka Paripalana kepada:

Pertama, Prof. Dr. Titik Pudjiastuti, M.Hum., Guru Besar Filologi di Universitas Indonesia. Titik Pudjiastuti memiliki andil yang sangat besar dalam bidang filologi. Karya-karyanya telah menjadi fondasi bagi perkembangan ilmu filologi dan kodikologi di Indonesia. Katalog Naskah Koleksi Universitas Indonesia (1997) yang disusunnya telah menjadi rujukan wajib untuk membaca naskah dalam koleksi tersebut. Kumpulan karangannya, Naskah dan Studi Naskah (2006), juga telah menjadi rujukan penting bagi ilmu kodikologi dan filologi. Karyanya yang paling menonjol adalah edisinya terhadap Sejarah Banten dan suntingan terhadap surat-surat Sultan Banten, yang ia selidiki naskah-naskahnya di wilayah Indonesia hingga ke berbagai pelosok Eropa. Buku Perang, Dagang, dan Persahabatan: Surat-surat Sultan Banten (2007) menjadi salah satu buku pertama di Indonesia yang menyunting surat-surat secara filologis. Buku Babad Arung Bondhan: Javanese local historiography (2008) telah dipublikasikan secara internasional. Selain produktif dalam menghasilkan karya tulis yang penting, Titik Pudjiastuti juga menjadi sarjana terdepan yang membuka akses naskah-naskah yang berasal dari Indonesia Timur, seperti Buton di Sulawesi Tenggara, Papua Barat, Ternate dan Tidore di Maluku Utara, Jailolo di Maluku, Bima, Nusa Tenggara Barat, serta beberapa wilayah di Kalimantan.

Kedua, Prof. Dr. Oman Fathurahman, Guru Besar filologi di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Prof. Dr. Oman Fathurahman juga memiliki peran sentral dalam perkembangan dunia pernaskahan Nusantara di Indonesia. Bukunya yang disusun bersama Henri Chambert-Loir, Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia Se-dunia (1999), menjadi rujukan primer bagi para peneliti naskah yang ingin mengetahui koleksi naskah Nusantara di berbagai tempat penyimpanan di dunia. Fokus kajian Oman Fathurahman adalah karya-karya ulama sufi Nusantara dan jaringan keilmuannya. Karya-karya Oman Fathurahman yang mengupas secara rinci kitab-kitab bercorak tasawuf telah menambah pengetahuan kita tentang diskursus keagamaan di masa lalu.

Selain dalam tulisan, dedikasi Oman Fathurahman yang nyata juga terlacak melalui sepak terjangnya dalam pemajuan kajian dan diseminasi pernaskahan. Oman Fathurahman merupakan figur yang “membangkitkan” filologi di perguruan-perguruan tinggi Islam. Dengan mengajukan sebuah istilah yang disebutnya filologi plus, Oman Fathurahman mengajak para ahli di bidang kajian Islam untuk mengkaji teks-teks Islam secara filologis sekaligus mengkontekstualisasikan isinya dalam kerangka Islamic Study, sehingga filologi tidak hanya penelitian yang menyunting dan menampilkan teks, tetapi berisi kajian yang lebih komprehensif.

Sebagaimana Titik Pudjiastuti, kiprah lain Oman Fathurahman yang sangat menonjol adalah usaha-usahanya dalam melaksanakan program digitalisasi dan katalogisasi naskah Nusantara yang telah dimulai sejak tahun 2000-an. Beliau pernah menjadi dewan panel di British Library untuk menyeleksi proyek-proyek digitalisasi Endangered Archive Programme di wilayah Asia Tenggara, di samping Menyusun katalog naskah koleksi Museum Ali Hasymi dan Tanoh Abee. Sumbangan yang luar biasa Oman Fathurahman adalah program DREAMSEA, yang mendigitalisasi naskah-naskah koleksi masyarakat. Pola kerja digitalisasi Dreamsea, yang melibatkan ahli filologi di daerah, masyarakat komunitas dan pemilik naskah, serta berbagai pemangku kebijakan, menjadikan program ini menjadi percontohan program digitalisasi naskah yang ideal dan inklusif. Di tengah kesibukannya sebagai guru besar, Oman Fathurahman masih menyempatkan diri untuk mengampu program “Ngariksa”, sebuah program siaran melalui kanal YouTube yang dirintisnya sejak tahun 2019. Program ini telah mendapatkan perhatian luas, bukan hanya di kalangan filolog, tetapi juga generasi muda.


Ketiga, Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Yayasan Pustaka Obor merupakan penerbit yang paling aktif menerbitkan penelitian-penelitian filologi yang berkualitas, seperti Bo' Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima (1999, 2012) karya Henri Chambert-Loir & Siti Maryam R. Salahuddin, Kritik Teks Jawa (2011) karya Willem van der Molen, La Galigo Menurut Naskah NBG 188 (3 jilid) (2017) karya Rétna Kencana Colliq Pijié Arung Pancana Toa, Ritumpanna Welenrennge: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo (1999) karya Fachruddin Ambo Enre; Khazanah Naskah (1999) karya Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman, atau Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik (2011) oleh Liaw Yock Fang. Buku-buku yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor merupakan buku-buku babon yang, meskipun telah terbit untuk jangka waktu yang lama, tetap dijadikan rujukan oleh para peneliti naskah dari berbagai tradisi kesusastraan.


Keempat, Lembaga Penelitian Prancis untuk Timur Jauh (École française d’Extrême Orient, EFEO). EFEO telah membuktikan kiprahnya dalam bidang penelitian sosial dan humaniora di Indonesia. Selain melakukan penelitian-penelitian terpadu mengenai naskah dan filologi, EFEO juga aktif mendukung usaha penguatan kapasitas para peneliti naskah melalui program beasiswa studi atau beasiswa praktik lapangan. Banyak sarjana Indonesia yang telah merasakan manfaat dari dukungan EFEO. Pada tahun 2016, EFEO telah menghibahkan 14 naskah kepada Perpustakaan Nasional dan menjadi contoh baik bagi upaya-upaya pengembalian naskah ke Indonesia. EFEO juga sangat aktif dalam menerbitkan karya-karya berkualitas di bidang penelitian sastra, sejarah, dan filologi, juga menerjemahkan karya-karya terbaik yang sebelumnya terbit dalam Bahasa Prancis atau Inggris ke dalam Bahasa Indonesia agar dapat diakses oleh pembaca Indonesia. Selain buku terjemahan, EFEO juga menerbitkan seri Pustaka Hikmah Disertasi (PhD), yang berisi terbitan disertasi terpilih. Banyak di antara seri ini berasal dari disertasi di bidang filologi, seperti Tarekat Syatariyah di Minangkabau (2008) karya Oman Fathurahman, Iluminasi (2009) karya Mujizah, Kidung Tantri Kediri (2013) karya Revo Giri Soekatno, dan Naskah-naskah Skriptorium Pakualaman (2016) karya Sri Ratna Saktimulya.

Atas dasar usaha, jasa, dan dedikasi keempat nomine di atas, Masyarakat Pernaskahan Nusantara, MANASSA, dengan bangga mempersembahkan penghargaan Pustaka Paripalana 2023 kepada: Prof. Dr. Titik Pudjiastuti, M.Hum., Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum., Yayasan Pustaka Obor Indonesia, dan Lembaga École française d’Extrême-Orient (EFEO).


Dewan Juri Pustaka Paripalana
(1) Dr. Sudibyo Prawiroatmodjo, M. Hum. (Ketua)
(2) Dr. Munawar Holil, M. Hum. (Anggota)
(3) Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, Ph.D. (Anggota)
(4) Dr. Aditia Gunawan, M.A. (Anggota)
Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Oke!) #days=(20)

Website kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman anda. Check Now
Accept !