Membaca Kisah Masa Lalu sebagai Cermin

Manassa
0

 

 

 Judul: [Alih Aksara] Raja Siak
Penulis: Retta Pesta Rauli
Penerbit: Perpustakaan Nasional RI
Tahun Terbit: 2019
Tebal Halaman: 87 hlm
Oleh: Alya Namira Nasution

Buku berjudul Raja Siak yang ditulis oleh Retta Pesta Rauli merupakan alih aksara dari naskah kuno koleksi Perpustakaan Nasional RI dengan nomor W 273. Buku ini diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2019.

Buku ini terbagi dalam dua bab. Bab pertama membahas tentang syair secara umum, syair Raja Siak, tujuan penulisan, pemilihan naskah, serta penggarapan naskah, sedangkan bab kedua membahas mengenai deskripsi naskah syair Raja Siak beserta transliterasi. Mengingat syair Raja Siak ini merupakan syair kuno, maka tentunya terdapat pula beberapa kata yang mungkin sukar untuk dipahami oleh para pembaca, sehingga terdapat pula bagian ‘Daftar Kata Sukar’ di akhir buku yang dapat membantu para pembaca untuk mengetahui maksud syair secara lebih mendalam serta untuk menambah wawasan kosakata.

Syair Raja Siak merupakan syair Melayu kuno yang menceritakan tentang keruwetan di Kerajaan Siak, yang kemudian mulai bertambah kisruh saat kedatangan Belanda yang berujung pada pecahnya peperangan antara bala tentara Kerajaan Siak. Namun, kisah yang dituturkan dalam syair Raja Siak ini bermula cukup jauh sebelum terjadinya peperangan, kurang lebih menceritakan satu-dua generasi di atas raja yang tengah memimpin Kerajaan Siak saat tengah terjadi keruwetan tersebut.

Syair bermula dengan menceritakan kisah Bandar Bengkalis yang kala itu begitu ramai didatangi orang, dan berita mengenai keramaian bandar tersebut pun terdengar oleh Raja Bugis yang memiliki banyak wilayah taklukan, bahkan sudah sampai ke negeri Johor. Sang Raja Bugis pun memiliki keinginan untuk menguasai kawasan Bandar Bengkalis tersebut, sehingga ia memutuskan untuk menulis surat dan memerintahkan hulu Balang untuk mengirimkannya ke Minangkabau dan Pagaruyung. Awalnya, saat utusan dari Raja Bugis sampai Pagaruyung, Baginda dan para rakyatnya menyambut kedatangan sang utusan dengan meriah lewat upacara kebesaran, namun alangkah marah dan menyesalnya sang Baginda saat mengetahu bahwa surat yang diterimanya lewat utusan sang Raja Bugis yang berisi ketertarikan sang raja untuk menguasai wilayah sang Baginda.

Singkat cerita, perang berlangsung antara Baginda Raja dari Bengkalis dengan sang Raja Bugis di Johor, dengan kemenangan jatuh ke pihak Baginda Raja Bengkalis. Namun, alih-alih menobatkan dirinya sebagai Raja Johor setelah meraih kemenangan tersebut, sang baginda Raja justru memutuskan untuk mendirikan kerajaan baru di sungai Siak yang ada di Buantan. Sejak saat itu lah, Kerajaan Siak berdiri dengan dipimpin oleh raja pertamanya yang bernama Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah dengan Raja kecil Marhun Buantan.

Seiring berjalannya waktu menjadi pemimpin, Raja Siak dikaruniai dua orang anak laki-laki, dengan putra sulung bernama Alamudin Syah dan putra bungsu bernama Abdul Jalil Muhammad Syah. Sayangnya, kedua putranya ini tidak akur dan berakhir dalam perseteruan karena perbedaan pendapat. Hal ini pun akhirnya memicu terjadinya perang saudara antara keduanya, yang akhirnya berakhir dengan keputusan bahwa salah satu dari saudara tersebut harus ada yang pergi meninggalkan Kerajaan Siak. Putra sulung pun pergi meninggalkan kerajaan dan pergi ke Malaka. Tak lama setelah kejadian tersebut, sang Raja Siak pertama jatuh sakit dan menemui ajalnya. Tahta kerajaan pun jatuh ke tangan putra bungsunya, yakni Abdul Jalil Muhammad Syah.

Raja kedua dari Kerajaan Siak yang mepakan anak bungsu dari Sultan Abdul Jalil Rahmat pun memerintah kerajaan selama beberapa tahun dan melakukan beberapa perubahan, salah satunya adalah memindahkan ibu kota kerajaan ke Bandar Indrapura. Setelah beberapa lama menjabat, sang raja pun diserang penyakit dan wafat, sehingga tahtanya harus segera digantikan oleh putranya yang masih cukup muda, bernama Sultan Alamudin Ismail.

Melihat kondisi kerajaan yang sedang tidak berdiri dengan kokoh karena baru saja kehilangan raja, Belanda merasa bahwa saat itu merupakan kesempatan besar bagi pihaknya untuk menjalankan balas dendam atas kekalahannya dulu di Jembalang Guntung. Belanda pun membuat strategi untuk mendatangkan kembali putra sulung dari Raja Siak pertama, menyatakan bahwa sebaiknya tahta kerajaan dipegang oleh putra sulung tersebut alih-alih oleh anak dari raja kedua—yang merupakan putra bungsu—yang terbilang masih muda.

Singkat cerita, kedatangan Belanda pun berujung pada meletusnya perang yang berlangsung cukup lama dan hampir dimenangkan oleh Kerajaan Siak. Namun, Belanda memiliki strategi lain, yakni dengan mendaratkan Alamudin Syah, putra sulung dari raja pertama, di Kerajaan Siak. Melihat kedatangan pamannya, tentu Raja Ismail memberikan sambutan dan upacara kebesaran yang meriah, selayaknya menyambut kedatangan raja. Situasi ini merupakan kesempatan bagi Belanda untuk meenerobos pertahanan Kerajaan Siak, hingga akhirnya berhasil dikuasai dan berakhir dengan tahta Raja Ismail yang direbut oleh Raja Alamudin Syah. Syair pun berakhir, menceritakan perginya Raja Ismail melepas tahtanya.

Syair Raja Siak ini merupakan syair Melayu kuno yang sangat berharga, karena menceritakan sebuah kisah sejarah di dalamnya. Syair asli dari kisah ini menggunakan aksara Jawi atau aksara Arab-Melayu, dan menggunakan Bahasa Melayu yang kental. Melalui buku alih aksara yang ditulisnya ini, Retta berharap agar warisan budaya tulis, seperti syair Raja Siak, tidak punah ditelan zaman, dan agar banyak masyarakat dapat memahami isi dari naskah syair Raja Siak dan menghargainya untuk dapat dilestarikan terus ke generasi-generasi selanjutnya. Membaca kisah masa lalu seperti ini dapat menjadi cermin untuk pembelajaran kita di masa kini dan masa depan.***

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Oke!) #days=(20)

Website kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman anda. Check Now
Accept !