Epos Heroik Ketangguhan Seorang Perempuan!

Manassa
0

 

 

 Judul: Pertempuran Di Sapi Gumarang [Saduran]
Penulis: Erinda Ayu Hutami, Arum Ngesti Palupi & Widya Prana Rini
Penerbit: Perpustakaan Nasional RI
Tahun Terbit: 2020
Tebal Halaman: viii + 112 hlm
Oleh: Munawar Holil

Buku Pertempuran Di Sapi Gumarang ini merupakan kisah saduran yang bersumber dari naskah kuno koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta: Serat Panji Jayakusuma. Naskah sumber saduran ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa. Sebelum menjadi bagian dari koleksi Museum Sonobudoyo, naskah ini merupakan milik Mas Ngabei Wiryaharja, abdi dalem dari Mantri Gedong Tengen.

Kisah yang diangkat dalam buku ini  termasuk Cerita Panji. Cerita Panji merupakan cerita sastra klasik Jawa yang sangat populer dan memiliki banyak versi, termasuk kisah Panji dalam Serat Panji Jayakusuma yang berasal dari kerajaan Kadiri dan Jenggala. Kisah ini kemudian menyebar ke seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga menyeberang ke Pulau Sumatera, Kalimantan bahkan ke negara-negara semenanjung Melayu lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Kisah epos ini lahir dari masyarakat yang pada saat itu merindukan bersatunya dua kerajaan--Kadiri dan Jenggala--yang dipimpin dua raja kakak-beradik sesama putera dari Airlangga. Ketika Airlangga yang sudah berusia lanjut memilih mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Raja Jenggala, dia merasa bingung untuk menentukan kepada putra yang mana tampuk kepemimpinannya akan diserahkan, mengingat keduanya memiliki hak yang sama untuk menjadi Raja Jenggala. Sementara puteri sulungnya yang bernama Dewi Kilisuci memilih menjadi Bikhsu dan tidak berminat mewarisi kerajaan ayahandanya.
    
Untuk menghindari pertikaian di antara kedua puteranya itu, Airlangga kemudian membagi dua kerajaannya. Sayangnya, keputusannya tersebut malah membuat kedua anak lelakinya berseteru karena menganggap hal tersebut tidak adil buat mereka. Perseteruan ini menjadi latar belakang lahirnya cerita Panji yang menjadi simbol agar kedua bersaudara itu berdamai  dengan menjodohkan putera dan puteri mereka.
    
Meski menyadur sebuah kisah klasik, namun buku saduran ini ditulis dengan gaya kekinian dan memuat beberapa hal  yang tidak dikenal di masa karya aslinya ditulis, seperti masuknya nama Hotman Paris serta kamar tuan puteri yang dilengkapi dengan AC plasmacluster.  Membaca naskah versi saduran ini tak ubahnya seperti membaca novel pop dengan dialog-dialog ringan dan diselipin beberapa bahasa prokem yang dikenal saat ini. Para penulis juga mengubah  judul cerita menjadi Pertempuran di Sapi Gumarang karena  klimaks dari cerita ini adalah pertempuran sengit yang terjadi di daerah Sapi Gumarang.
    
Cerita dibuka dengan kegundahan Dewi Binantara, isteri seorang Lurah  di Negeri Ngurawan bernama Raden Sastramiruda pada kelakuan suaminya yang menyabung ayam, taruhan pacuan kuda, dan menyiksa binatang. Namun, kegundahan itu sirna karena pandainya sang suami membujuknya. Tak lama kemudian, datanglah Raden Jayasentika yang mengajak suami isteri tersebut menghadap Tumenggung Jayakusuma, kakak dari Raden Jayasentika dan Raden Sastramiruda.  Dalam pertemuan itu, Tumenggung Jayakusuma memarahi Raden Sastramiruda yang dia dengar suka menerima perhiasan emas dari Kusumayu Ngurawan, puteri dari Raden Harya Sinjanglaga.  Hal ini membuat Tumenggung menjadi murka dan memaki adiknya.

Kisah berlanjut ketika Ki Tumenggung Jayakusuma hendak berangkat untuk menyerang Negara Bali bersama pasukannya. Ki Tumenggung Jayakusuma menaiki kuda betina yang dia dapat dari Prabu Sinjanglaga dan isterinya, Dewi Surengrana, menaiki kuda bernama Sanggarunggi sambil memangku panahnya. Ki Tumenggung Jayakusuma juga menunjuk saudaranya Jayaleksana, Jayasentika, dan Yudapati ikut berperang bersamanya. Semua pasukan, baik dari Ngurawan maupun pasukan dari Pabean, bertarung dengan gagah berani sehingga sulit mengenali siapa lawan dan kawan. Korban pun berjatuhan dari kedua pasukan  yang berperang, termasuk Ki Demang Pabean. Sementara itu, pasukan Ngurawan berembuk untuk mengatur strategi menaklukkan Kerajaan Bali.

Tiga ribu pasukan bertarung. Jayakusuma yang dituju satu lawan satu, sedangkan Jaya Sentika dan Jaleksana Yudapati segera menyerbu. Pasukan pun tercerai-berai karena Ki Patih meninggalkan prajuritnya. Ketika Jayakusuma berhadapan langsung dengan Jayaasmara, tak pelak terjadi adu mulut yang membuat Dewi Surengrana menjadi jengkel karena bukannya saling serang, keduanya malah beradu kata. Dewi Surengrana kemudian marah dan mengambil busurnya dan berteriak kepada keduanya sehingga membuat Jayakusuma tersadar. Bersama Dewi Surengsana,  Jayaasmara kemudian meringkus Jayaasmara.

Saat membaringkan Jayaasamara yang tengah tak sadarkan diri, Jayaasamara terkejut melihat sebuah tanda hitam di sela-sela rambut Jayaasamara yang sangat dia kenali. Dia baru menyadari kalau Jayaasmara adalah adik kandungnya yang sudah lama terpisah darinya dan sudah lama dia cari-cari keberadaannya.

Tibalah saatnya pertempuran besar menghadapi pasukan Kerajaan  Bali yang memiliki pasukan tidak terhitung layaknya laut tanpa tepi. Namun pasukan Ngurawan tidak gentar dan mampu membuat Raja Bali kalah dam akhirnya mundur dari medan perang. Raja merasa sangat marah karena semua garwa padmi tertawan musuh dan tidak ada yang kembali.

Pertempuran di Sapi Gumarang ini merupakan sebuah epos heroik yang memuat sisi  ketangguhan seorang perempuan yang berada di balik kekuatan seorang panglima perang. ***

 

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)