Semarak LFC dalam Membumikan Filologi dan Menangkal Hoaks

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

April 08, 2019

Semarak LFC dalam Membumikan Filologi dan Menangkal Hoaks

Semarak LFC dalam Membumikan Filologi dan Menangkal Hoaks

CIPUTAT – Untuk kedua kalinya Lingkar Filologi Ciputat(LFC) bersama Manassa, DREAMSEA, dan Fins menggelar acara Ngobrol Filologi atau Ngofi. Kali ini tema yang diangkat ialah ‘Manuskrip sebagai sumber generasi milenial menangkal hoaks’.

Hadir sebagai pembicara para pakar filologi Dr. M. Adib Misbachul Islam, M.Hum dan M. Nida’ Fadlan, M.Hum. Adapun sebagai moderator Nurfika Arafah, bertempat di Oishi Kafe dan dipadati peserta dari berbagai kalangan pencinta manuskrip (2/4/2019).

Dalam kesempatan itu, Prof. Dr. Oman Fathurahman juga berkesempatan menyampaikan sambutannya, meskipun melalui rekaman video karena berhalangan hadir.

“Filologi dan manuskrip memiliki nilai yang perlu diseminasikan, yaitu nilai tentang pentignya mengecek sumber primer, dari mana berita itu diterima, dan butuh diverifikasi. Hal ini bisa disampaikan untuk kebutuhan sekarang era banjirnya informasi,” ungkap tokoh yang akrab disapa Kang Oman itu.

Hoaks diartikan sebagai informasi palsu. Ini bukan hal yang baru. Bahkan, menurut M. Adib Misbachul Islam, sejak zaman dahulu saat manuskrip marak diproduksi banyak juga kesalahan dalam penyalinan, pengubahan judul, nama pengarang, tahun, dan sebagainya.

“Kalau dilihat dari pola-pola penyebaran berita, mirip dengan pola-pola transmisi naskah. Naskah pada masa lampau saat dihadirkan pengarang, kemudian disalin oleh orang lain entah itu muridnya atau yang lainnya, lalu menyebar melintasi ruang-ruang geografis. Kini ada berita lalu diseber ke mana-mana, grup WA dengan cepat,” ucap penulis buku Puisi Perlawanan dari Pesantren itu.

Sementara itu, Nida’ menuturkan bahwa pada era kolonial informasi bohong juga tersebar luas. Ini terjadi pada kasus ulama asal Kuningan, Kiai Hasan Maulani. Belanda menuduh Hasan Maulani menyebarkan ajaran sesat, padahal setelah ditelisik melalui naskah surat-surat yang ditemukan tidak berindikasi kepada ajaran sesat.

“Naskah bisa menjadi alat untuk melakukan rekonstruksi sejarah. Pada 1925 sejarawan terkemuka dari Belanda Drewes menulis Kiai Hasan menistakan agama. Disertasi ini dikutip oleh banyak peneliti, seperti Martin van Bruinessen dan Merle Calvin Ricklefs. Mereka mengutip dari sumber sekunder, disertasi Drewes. Pada 2013 muncullah saya ini meneliti Kiai Hasan Maulani, setelah saya teliti melalui sumber primernya tidak ada yang menyebutkan penyimpangan agama, justru ajarannya merujuk pada kitab-kitab ahlussunnah waljamaah,” pungkas Nida’.

Ke depan, LFC berencana akan terus melakukan kajian, penelitian, dan penyebaran media generasi muda cinta manuskrip. Organisasi yang didirikan pada 31 Maret 2018 ini kini diketuai oleh Fathurrochman Karyadi, mahasiswa magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Abd)

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage