Naskah Nusantara: Sumber Inspirasi Bangsa Indonesia

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Oktober 28, 2018

Naskah Nusantara: Sumber Inspirasi Bangsa Indonesia

Naskah Nusantara: Sumber Inspirasi Bangsa Indonesia

Naskah Nusantara merupakan dokumen tertulis yang menjadi khazanah karya budaya. Dan, Bangsa Indonesia memiliki naskah yang sangat melimpah. Naskah-naskah itu tersebar hampir di seluruh kepulauan di Nusantara. Di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, sampai tahun 2017, ada tersimpan 11.133 naskah.

“Saya meluruskan, kita bukan hanya diberi mandat menjaganya. Sebenarnya mandat yang diberikan undang-undang adalah mendistribusikannya, mengajarkannya, menyampaikannya kepada masyakarakat, sehingga orang berubah perilakunya kepada perilaku-perilaku yang telah tertuang di dalam manuskrip ini,” kata Muhammad Syarif Bando tentang koleksi naskah yang dimiliki Perpusnas.

Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpusnas RI, mengatakan hal itu saat memberi sambutan di acara “Festival Naskah Nusantara IV”, Senin (17/9/2018) pagi lalu, di Auditorium Soekarman atau Ruang Teater, Lantai 2, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatatan No 11, Jakarta Pusat.

Festival Naskah Nusantara IV ini digelar oleh Perpusnas RI dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dan berlangsung dari 16-22 September 2018, dengan mengangkat tema besar, “Relevansi, Kontekstualisasi, dan Kearifan dalam Naskah Nusantara Menuju Indonesia Maju”.

“Sebagaimana kita tahu bahwa sesungguhnya tatanan, hubungan sosial, perilaku sopan-santun dan hubungan kemanusiaan tertuang rapi di dalam naskah-naskah yang kita miliki, yang saat ini terjadi degradasi dan pergeseran nilai di dalam masyarakat kita, terutama generasi milenial,” lanjut Syarif Bando.

Di Festival Naskah Nusantara IV diselenggarakan “Seminar Internasional Pernaskahan Nusantara”, yang berlangsung dari 17-21 September 2018, dengan menghadirkan 17 pembicara. Selain itu, juga ada “Pameran Naskah Nusantara”, “Lokakarya Penulisan Aksara Kuno”, “Hiburan Musik dan Pemutaran Film”, “Bazaar Buku dan Makanan”, serta “Lomba Foto Selfie”.

Menurut Syarif Bando esensi sebuah perpustakaan adalah kemampuannya untuk mengeksplorasi, mendisemenisakan dan menyajikan tentang sejarah perjalanan sebuah peradaban yang direkam dalam berbagai medium yang disebut dengan manuskrip.

“Untuk mengingat kembali tonggak kemajuan kita dalam keberaksaraan, sejak abad ke-5 bangsa ini telah mengenal aksara, dan sejak itu pula Bangsa Indonesia berkembang dengan tradisi tulis yang kaya, yang memungkinkan kita, para pewarisnya, menyambangi masa lalu dan belajar darinya,” ujar Syarif Bando.

Dan, naskah Nusantara atau manuskrip ditulis dalam berbagai aksara dan bahasa. Ada yang menggunakan aksara daerah, seperti aksara Jawa, Jejawen, Sunda Kuno, Bali, Bugis, Batak, Lampung, dan Incung. Dan, juga aksara Arab, Arab Pegon, dan Latin.

Sedangkan bahasa daerah yang banyak digunakan pada naskah Nusantara, yaitu Bahasa Jawa, Jawa Kuno, Bali, Sasak, Bugis, Sunda, Madura, Lampung, Batak, Rejang, dan lainnya.

Syarif Bando juga mengungkapkan bahwa sampai saat ini belum ada bangsa di dunia yang menyamai apalagi melebihi Bangsa Indonesia yang memiliki tidak kurang dari 120 aksara pada zamannya. Dan yang masih ada sampai saat ini tidak kurang dari 20 aksara.

Dari segi isi, naskah-naskah Nusantara juga mengandung subjek yang beragam, antara lain keagamaan, sejarah, sastra, bahasa, pengobatan, arsitektur dan tata kota, sistem administrasi, kesenian, teknologi, pertanian, perbintangan, mantra, dan lainnya.

Dan, seperti yang sering diungkapkan, semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia, “Bhinneka Tunggal Ika”, yang memiliki arti “Berbeda-beda itu, (tetapi) itu adalah satu”, bisa tergali berkat pembacaan yang cermat terhadap naskah Nusantara. Frase “Bhinneka Tunggal Ika” dikutip oleh para pendiri bangsa dari Kakawin Sutasoma pada pupuh 139, bait 5.

Kakawin Sutasoma yang digubah oleh Mpu Tantular menggunakan Bahasa Jawa Kuno dan beraksara Bali. Kakawin ini menceritakan perjalanan seorang pangeran dari negeri Hastinapura, bernama Sutasoma, untuk menemukan makna hidup sesungguhnya.

Sebagai putra mahkota di negeri yang makmur, Sutasoma bisa mendapatkan apa saja. Pendeknya tidak kekurangan apa-apa. Ia diceritakan memiliki ketampanan yang sebanding dengan Arjuna. Tapi Sutasoma justru memilih hidup sebagai pertapa untuk mencapai keutamaan hidup. Di dalam petualangannya, ia mengalami berbagai kisah yang sarat pelajaran hidup.

“Festival Naskah Nusantara bertujuan untuk menggali, mengangkat, mengkontekstualisasikan serta mengaktualisasikan nilai-nilai kearifan dalam naskah Nusantara untuk pembentukan identitas dan jati diri kebudayaan bangsa,” kata Ofy Sofiana, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Perpusnas, yang juga panitia penyelenggara, saat menyampaikan laporan kegiatan.

Ofy Sofiana, kepada para awak media, mengakui bahwa meskipun naskah-naskah Nusantara yang dimiliki Perpusnas telah dikatalogkan, tapi belum semuanya bisa dialihaksarakan maupun dialihbahasakan.

“Karena memang kita agak sulit ahlinya, karena naskah yang ada di Perpusnas tidak hanya Jawa Kuno, tapi ada Bugis, Batak dan sebagainya. Nah, ini untuk mendatakan ahlinya,” kata Ofy Sofiana.

Perpusnas, menurut Ofy Sofian, juga berusaha membuat salinan terutama naskah-naskah yang sudah rapuh. Selain itu juga ada upaya untuk mendigitalisasikan naskah-naskah yang ada. Saat ini belum semua naskah terdigitalisasikan.

Sementara, Munawar Holil, Ketua Manassa, mengatakan bahwa memang ada dua hal penting berkaitan dengan naskah. Pertama, yaitu upaya penyelamatan teks. Karena kondisi manuskrip, baik yang ada di Perpusnas dan terutama yang dikoleksi pribadi, ada yang mengalami kerusakan.

“Para pemilik manuskrip itu tidak memiliki pengetahuan mengenai bagaimana cara menyimpan. Apalagi juga ada persepsi pemilik, misalnya, menganggap manuskrip itu pusaka sehingga mereka ya turun-temurun saja. Tidak tahu cara menyimpan, tidak berani membaca isinya atau membuka isinya,” kata Munawar Holil, yang juga Staf Pengajar di Fallkultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI).

Langkah kedua, yaitu transliterasi atau alih aksara. Dari manuskrip-manuskrip yang menggunakan berbagai aksara daerah dialihaksarakan ke aksara latin. Setelah itu, menurut Munawar Holil, adalah kajian isi, untuk mengetahui isi naskah yang mengandung beragam subjek. Dan, untuk ini perlu melibatkan berbagai keahlian.

“Kalau saya misalnya orang sastra tahunya Bahasa Sunda, Sastra Sunda, tapi ketika memahami teks yang tentang agama misalnya, atau teks tentang pengobatan, itu sulit juga,” ujar Munawar Holil ketika menjelaskan beberapa persoalan berkaitan dengan manuskrip.

Munawar Holil juga mengungkapkan adanya kesulitan lain, yaitu masih kurangnya para ahli atau filolog yang ada. Selama ini yang banyak adalah ahli naskah Jawa, tapi untuk naskah-naskah berbahasa daerah lain, seperti Bahasa Batak, Bugis, juga Arab dan lainnya masih sangat kurang.

Perpusnas memiliki koleksi naskah unggulan. Dan, dari koleksi itu empat di antaranya telah ditetapkan sebagai Memory of the World (Ingatan Dunia) oleh UNESCO. Yaitu, La Galigo pada 2012, Babad Diponegoro pada 2013, Nagarakretagama pada 2013, dan Cerita Panji pada 2017.

Sumber: https://kerisnews.com/2018/10/10/naskah-nusantara-sumber-inspirasi-bangsa-indonesia/

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage