Mengenalkan Warisan Budaya ke Generasi Milenial

Manassa
0
Mengenalkan Warisan Budaya ke Generasi Milenial

Nama Nagagini, tokoh di pewayangan, beberapa waktu lalu sempat muncul dibincangkan di media sosial maupun di beberapa media online. Tokoh pewayangan ini jadi pembicaraan karena dikaitkan dengan nama Nagini, tokoh yang ada di dua buku seri Harry Potter, karya JK Rowling.

Meski tidak jelas benar, apakah Nagini di buku JK Rowling adalah tokoh yang sama dengan tokoh Nagagini di pewayangan. Tapi penulis buku Harry Potter ini dalam cuitannya di Twitter mengakui bahwa Nagini, yang juga muncul di film Fantastic Beasts, adalah makhluk mistis berbentuk seperti ular dari mitologi Indonesia.

Di pewayangan, terutama Wayang Purwa, sebenarnya ada beberapa tokoh yang memiliki nama yang berawal dengan kata “naga”. Salah satunya yaitu Dewi Nagagini. Dewi Nagagini ini bersaudara dengan Nagatatmala. Keduanya adalah anak dari Hyang Antaboga dengan Dewi Supreti.

Dalam buku “Rupa & Karakter Wayang Purwa” karya Heru S Sudjarwo, Sumari, dan Undung Wiyono disebutkan meski menyandang nama “naga”, Dewi Nagagini dan Nagatatmala berwujud manusia. Dewi Nagagini ini menikah dengan Bima, salah satu tokoh Pandawa, dan mempunyai seorang anak bernama Antareja.

Ayah Dewi Nagagini, yaitu Hyang Antaboga, dikisahkan juga berwujud manusia. Tapi ia bisa berubah menjadi ular naga raksasa saat triwikrama. Bahkan, setiap 1000 tahun sekali, Hyang Antaboga ini berganti kulit atau istilah Bahasa Jawanya, “nglungsungi”.

Sebenarnya, Dewi Nagagini, baik di pementasan wayang kulit ataupun wayang orang, termasuk tokoh yang jarang muncul. Karena itu wajar jika nama Dewi Nagagini ini, bisa dikata, kurang begitu dikenal bila dibanding dengan nama-nama tokoh perempuan lain di pewayangan. Misalnya, Dewi Srikandi.

Maka, dikaitkannya nama Dewi Nagagini dengan tokoh Nagini, yang muncul di buku karya JK Rowling dan film Fantastic Beasts, bisa jadi, merupakan satu keuntungan dan juga suatu ironi. Karena, salah satu tokoh pewayangan ini menjadi lebih dikenal, terutama oleh generasi sekarang, setelah ada orang luar mengangkatnya.

Dan, perkara mengangkat warisan budaya ke dalam bentuk yang lebih baru sehingga bisa diterima masyarakat sekarang, sebenarnya sudah dilakukan oleh anak bangsa. Salah satunya yaitu Yulianeta, Staf Dosen Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, UPI, Bandung.

Yulianeta menunjukkan usahanya itu ketika menjadi salah satu pembicara di “Seminar Internasional Pernaskahan Nusantara”, hari pertama, Senin (17/9/2018) siang, di Auditorium Soekarman atau Ruang Teater, Lantai 2, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Jalan Medan Merdeka Selatatan No 11, Jakarta Pusat.

Di seminar dalam rangka “Festival Naskah Nusantara IV” yang digelar oleh Perpusnas RI dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dari 16-22 September 2018, itu, Yulianeta mengungkapkan bahwa naskah kuno Nusantara merupakan warisan budaya luhur yang patut dikenali dan dihargai generasi penerusnya.

“Ketika generasi bangsa tidak mengenal naskah kuno, apalagi mengapresiasi bahkan memaknai isinya, maka terputuslah warisan budaya itu, termasuk nilai-nilai luhur di dalamnya,” kata Yulianeta dalam makalahnya yang bertajuk “Memperkenalkan Nilai-Nilai Luhur dalam Naskah Kuno di Sekolah”.

Namun sayangnya, menurut Yulianeta, masyarakat hari ini lebih menggemari budaya impor yang instan dan mudah mereka tiru serta akes melalui media internet. Siswa Indonesia hari ini lebih mengenal gaya Korea (K-Pop), baik lagu, kisah maupun tokoh karakternya.

Akibatnya, kebanggaan pada warisan budaya sendiri malah dianggap kuno dan tidak “gaul”. Padahal, salah satu kemunduran sebuah bangsa, kata Yulianeta, ditandai ketika masyarakatnya tidak mengenal warisan budayanya sendiri.

Namun, Yulianeta juga mengakui bahwa memperkenalkan warisan budaya, terutama, naskah kuno ke sekolah merupakan tugas berat bagi para guru. Karena, naskah-naskah kuno yang telah ditransliterasikan ke dalam tulisan latin belum tentu bisa dipahami bahasanya.

“Kekayaan naskah kuno Nusantara menjadi modal yang sangat potensial bagi dunia pendidikan, sebab naskah-naskah itu memuat nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa,” ujar Yulianeta, yang juga melihat naskah kuno perlu mengalami penyesuaian dan perkembangan.

Perlu diketahui, Bangsa Indonesia memiliki kekayaan sastra yang luar biasa. Khasanah sastra itu meliputi puisi dengan beragam genre seperti pantun, gurindam, syair, mantra dan teka-teki. Juga prosa, yang meliputi fabel, cerita raktya, hikayat, dongeng, legenda. Serta beragam teater kuno, seperti pertunjukan wayang, randai, lenong, arja, dan ketoprak.

Dan, sebelum dikenalnya huruf latin dan industri percetakan, nenek moyang kita terlebih dahulu berkarya secara lisan. Kemudian, mereka menuliskan kisah-kisah itu ke dalam bentuk naskah, yang bisa berupa lembaran kulit kayu, daun, dan bahkan batu.

“Proses transformasi naskah kuno ke dalam bentuk baru memberikan peluang bagi terwarisinya nilai-nilai luhur budaya bangsa yang terdapat pada naskah kuno kepada generasi bangsa,” tulis Yulianeta di makalahnya.

Bentuk baru yang dimaksud yaitu komik dan film animasi. Yulianeta melihat, saat ini, produk berwujud komik dan film animasi sangat digemari kalangan muda. Sementara naskah kuno yang ditransformasikan adalah Hikayat Raja Kerang.

Hikayat merupakan nama jenis sastra yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai wahananya. Dan, naskah hikayat ini bisa diklasifikasikan dalam beberapa golongan, yaitu : hikayat yang berisi catatan atau riwayat suatu kerajaan, hikayat yang berisi cerita rekaan, dan hikayat yang berisi riwayat kehidupan atau biografi seseorang.

“Sifat rekaan dalam hikayat merupakan unsur yang menonjol. Kadar rekaannya disesuaikan taraf kehidupan dan kebudayaan masyarakat pada zaman hikayat itu muncul,” ujar Yulianeta yang juga aktif di Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).

Dan, cerita Hikayat Raja Kerang, yang ditulis pada tahun 1851, dapat digolongkan ke dalam cerita pelipur lara. Cerita jenis ini biasanya menceritakan seorang raja keturunan dewa, jin, peri, atau mambang yang sakti dan elok parasnya.

Hikayat Raja Kerang ini dipilih karena memiliki tema kepahlawanan atau heroisme, dan sangat kental akan unsur budaya yang sangat mengakar di Indonesia. Umumnya, menurut Yulianeta, cerita heroisme sangat disukai siswa.

“Amerika memiliki Superman, Batman, X-Man, Spiderman, dan lain-lain. Sedangkan Indonesia memiliki Gatotkaca, Arjuna, Gundala, Wiro Sableng, Si Buta dari Goa Hantu, dan lain-lain. Tokoh Raja Kerang sebagai pahlawan, patut diperkenalkan pula melalui film animasi,” kata Yulianeta di makalahnya.

Hikayat Raja Kerang ini menceritakan Raja Kerang atau Indra Laksana, sebagai tokoh utama, yang terlahir dari cangkang kerang. Indra Laksana adalah Putra Mahkota Kerajaan Biranta Pura Dewa. Ibundanya adalah seorang Permaisuri bernama Putri Cahaya Sari.

Putri Cahaya Sari ini diusir dari kerajaan setelah Sang Maharaja Bikrama Indra tahu kalau Permaisurinya itu melahirkan seekor kerang. Beruntung ada seorang Pandita bernama Palangka Dewa menyelamatkan Putri Cahaya Sari dan kerang yang dibawanya.

Dan, ternyata dari dalam kerang itu kemudian muncul seorang bayi lelaki yang gagah dan tampan. Dialah Indra Laksana yang juga disebut Raja Kerang, karena keluar dari cangkang kerang. Raja Kerang sejak kecil dilatih ilmu kanuragan dan ilmu alam oleh Pandita Palangka Dewa. Setelah remaja Raja Kerang lantas berkelana mencari sang ayah yang telah mengusirnya.

Di Seminar Internasional Pernaskahan Nusantara bertema “Menuju Revolusi Mental : Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Naskah Nusantara” ini, selain Yulianeta, juga hadir Arie Budhiman, Arief Rachman, dan Yudi Latief sebagai narasumber. Dengan moderator Munawar Holil, Ketua Manassa.

Arie Budhiman, Staf Ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter, mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, mengatakan bahwa naskah Nusantara mampu menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia.

“Hal ini karena (naskah Nusantara) merupakan kekayaan budaya bangsa, kemudian juga sumber daya strategis bagi pendidikan dan kebudayaan, pembentuk identitas atau jati diri bangsa, kemudian juga di dalamnya terkandung nilai-nilai karakter yang berbasis kearifan lokal, bukan hanya pada zamannya namun mampu melampaui zaman yang sangat panjang, dan tentu sebagai kekayaan intelektual Bangsa Indonesia,” kata Arie Budhiman.

Sementara, Arief Rachman, Pakar Pendidikan dan juga Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, yang berbicara tentang “Pendidikan Karakter dalam Naskah Nusantara”, mengatakan bahwa kita bertanggungjawab atas pelestarian budaya kita. Bukan karena lebih berharga daripada budaya orang lain tetapi karena budaya itu adalah milik kita sendiri yang menentukan karakter.

“Dokumen-dokumen itu sangat penting sekali. Hal ini menggarisbawahi suatu ikatan, komitmen, dari suatu komunitas Nasional maupun Internasional untuk menjaga warisan dokumenter yang terancam punah di dunia,” kata Arief Rachman, yang pernah menjadi Executive Board UNESCO, Paris, dari 2003-2007.

Sumber: https://kerisnews.com/2018/10/15/mengenalkan-warisan-budaya-ke-generasi-milenial/
Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Oke!) #days=(20)

Website kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman anda. Check Now
Accept !