PTKIN Harus Suarakan Karakter Islam Indonesia dalam Riset dan Tulisan

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

April 15, 2018

PTKIN Harus Suarakan Karakter Islam Indonesia dalam Riset dan Tulisan

PTKIN Harus Suarakan Karakter Islam Indonesia dalam Riset dan Tulisan

Bandung (Kemenag) --- Kementerian Agama tengah menggencarkan kampanye Islam Moderat di Indonesia. Staf Ahli Menteri Agama Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi Oman Fathurahman mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk menyuarakan karakter Islam Indonesia dalam riset dan tulisan ilmiah.

“Penting bagi civitas akademika di kampus-kampus PTKIN untuk menyuarakan dan mempromosikan karakter Islam Indonesia yang moderat dalam bentuk-bentuk riset, tulisan ilmiah, serta aktifitas akademik lainnya,” tegas Oman saat menjadi Keynote Speech pada "The 1st International Conference on Islamic Civilization (ICOIC)", yang digelar Faculty of Adab and Humanities UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Bandung, Kamis (05/04).

Seminar ini diikuti oleh para dosen dan peneliti di berbagai kampus. Tampil sebagai narasumber, Prof. Dr. H. Agus Salim Mansyur, M.Pd. (UIN SGD Bandung), Prof. Dr. Sulasman, M.Hum (UIN SGD Bandung), Dr. Kevin W. Fogg (Oxford University), Dr. Azhar Ibrahim Alwee (NUS, Singapore), dan Dr. Abdulaziz Abbachi (MIU, Iran).

Menurut Oman, salah satu ciri moderasi Islam Indonesia adalah kemampuannya berdialog dengan berbagai keragaman tradisi, budaya, dan agama di Indonesia. Dalam konteks tradisi intelektual Islam, adaptasi dan interaksi Islam dengan keragaman Indonesia itu telah turut melahirkan kekayaan sumber primer berupa teks-teks tulisan tangan (manuscripts), yang menjadi bagian penting dari peradaban Islam (islamic civilization) Indonesia, dan bahkan dunia.

“Promosi Islam Indonesia dengan karakternya yang khas tersebut tidak cukup dilakukan di Indonesia sendiri, melainkan harus menjangkau masyarakat akademik global, dan itu hanya dapat dilakukan, jika civitas akademika PTKIN melakukan riset yang baik serta menuliskan dan mempublikasikannya dalam Bahasa internasional, khususnya Inggris dan Arab,” terangnya.

Oman menilai, saat ini studi-studi tentang moderasi Islam Indonesia belum menjadi bagian integral dari arus utama kesarjanaan kajian Islam (Islamic scholarship) global. Menurutnya, dalam kesempatan diskusi dengan Prof. Natana Delong-Bas, President of American Council for the Study of Islamic Societies, di Boston College, Boston, Amerika, awal Maret 2018 lalu, terungkap bahwa ada gap pengetahuan yang cukup besar di kalangan mahasiswa jurusan Islamic studies di kampus tersebut.

“Mereka lebih mengenal peradaban Islam di Arab, Iran, Turki, dan Afrika, ketimbang peradaban Islam di Indonesia atau Asia Tenggara,” ujarnya.

Menurut Oman, ada dua solusi yang harus dilakukan civitas akademika PTKIN dalam kampanya Islam Indonesia yang moderat. Pertama, memperkuat riset dan publikasi internasional terkait peradaban Islam Indonesia, termasuk riset dan publikasi ilmiah kajian Islam yang berbasis pada teks (text-based Islamic studies).

Kedua, melakukan kerjasama internasional untuk memperjuangkan agar Bahasa Indonesia/Melayu dijadikan sebagai salah satu Bahasa pilihan di kampus-kampus di luar Negeri yang menyelenggarakan kajian Islam. Dengan demikian, mereka lebih mengenal lagi kekhasan dan keunikan peradaban Islam Indonesia melalui bacaan berbahasa Indonesia, demi untuk melengkapi pengetahuan mereka tentang peradaban Islam Arab, Turki, Iran, Afrika, dan lainnya.

“Promosi Islam Indonesia ke dunia akademik internasional perlu dilakukan dengan satu modal keyakinan bahwa Indonesia adalah Negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, plus sebagai Negara demokrasi terbesar ketiga yang sukses menyandingkan nilai-nilai Islam dengan prinsip-prinsip demokrasi,” tuturnya.

“Meski di Indonesia terdapat ribuan etnis, ratusan Bahasa, serta ragam agama dan kepercayaan, namun terbukti bahwa secara umum harmoni tertap terjaga,” sambungnya.

Untuk mewujudkan misi promosi Islam Indonesia dalam konteks perguruan tinggi Islam tersebut, Oman menilai kampus PTKIN harus dapat menjadi pusat strategis kajian Islam dan masyarakat yang menyelenggarakan riset-riset berciri khas, bermutu, mengedepankan masing-masing kearifan lokalnya, serta mempublikasikannya dalam bentuk karya-karya ilmiah.

“Kementerian Agama, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, kini tengah mempersiapkan berdirinya Universitas Islam Internaisonal Indonesia (UIII), yang diproyeksikan untuk menjadi corong promosi peradaban Islam Indonesia melalui jalur pendidikan tinggi Islam, ke dunia internasional,” tandasnya. (OF)

Sumber: https://kemenag.go.id/berita/read/507376/ptkin-harus-suarakan-karakter-islam-indonesia-dalam-riset-dan-tulisan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage