Proyek Digitalisasi Manuskrip EAP, Untuk Siapa?

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Desember 12, 2017

Proyek Digitalisasi Manuskrip EAP, Untuk Siapa?

Proyek Digitalisasi Manuskrip EAP, Untuk Siapa?

Oman Fathurrahman

Sebagai bangsa berperadaban besar, dengan multietnis, multibahasa dan multiagama, Indonesia mewarisi khazanah manuskrip yang mencerminkan kekayaan dan keragaman budayanya. Manuskrip yang saya maksud di sini adalah artefak tulisan tangan berupa karya-karya sastra, agama, dan arsip-arsip tulisan tangan masyarakat masa lalu yang mengandung beragam informasi dan ilmu pengetahuan, dan masih memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat kekinian.

Tidak semua bangsa mewarisi khazanah peradaban tertulis yang semdemikian kaya dan beragam seperti Indonesia, dengan ratusan aksara dan bahasa yang menjadi medium penulisannya! Oleh karenanya, adalah kewajiban kita bersama untuk menjaga dan merawat khazanah manuskrip Nusantara tersebut sebaik-baiknya.

Mengapa perlu dirawat? Karena manuskrip-manuskrip tersebut umumnya memang dalam kondisi yang rentan dan terancam punah, baik akibat kelalaian manusia sendiri maupun karena ‘kehendak’ alam. Alas manuskrip, khususnya kertas, yang sudah berusia ratusan tahun, digerogoti tinta (korosi) pula, jika tidak disimpan dengan baik, maka kepunahan hanya tingga menunggu waktu saja. Bukan hanya fisik manuskripnya saja yang harus diselamatkan, tapi yang terpenting juga adalah kandungan isi yang terdapat di dalam teks-teksnya.

Pada era tahun 1980an hingga 1990an, naskah Nusantara banyak dialihmediakan ke dalam bentuk microfilm. Akan tetapi, mengingat berbagai keterbatasan pada masa itu, kebanyakan manuskrip yang dimikrofilmkan adalah koleksi-koleksi lembaga, seperti Perpustakaan Nasional, perpustakaan-perpustakaan daerah atau museum-museum. Programnya belum secara massif menjangkau manuskrip-manuskrip dalam koleksi pribadi di masyarakat, yang jumlahnya malah mungkin lebih besar, dan yang kondisi fisiknya jauh lebih rentan akibat penyimpanan yang tidak memenuhi standar konservasi, atau bahkan tidak terawat sama sekali.

Pada awal tahun 2000an, teknologi digital telah sangat berkembang, sehingga kegiatan pelestarian dokumen banyak yang memanfaatkan kemudahan teknologi tersebut, tak terkecuali untuk pelestarian manuskrip. Jangkauannya pun semakin tak terbatas, mencakup koleksi pribadi yang awalnya kurang mendapat perhatian.

Salah satu program digitalisasi manuskrip yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap aktivitas pelestarian manuskrip-manuskrip Nusantara adalah Endangered Archives Programmme (EAP), The British Library yang didanai oleh Yayasan Arcadia, yang setiap tahunnya memberikan bantuan dana (grant) untuk proyek digitalisasi. Saya sangat merekomendasikan agar para pegiat pelestarian manuskrip Nusantara memanfaatkan program ini.

Sebagaimana disebutkan dalam portalnya (http://eap.bl.uk), tujuan program EAP ini adalah: “…to contribute to the preservation of archival material that is in danger of destruction, neglect or physical deterioration world-wide…”, memberikan kontribusi pelestarian dokumen-dokumen berharga, termasuk manuskrip, yang terancam punah atau rusak di seluruh penjuru dunia, tentunya termasuk Indonesia. Hasil dari program EAP ini adalah versi digital dari puluhan ribu manuskrip yang disimpan dalam sebuah portal yang dapat diakses secara cuma-cuma, untuk keperluan penelitian.

Sejak dicanangkannya pada tahun 2004/5, sudah ada 13 proyek digitalisasi manuskrip Indonesia yang mendapatkan grant dari EAP, yaitu:

EAP061 (2006): “The MIPES Indonesia” (Dr. Amiq Ahyad, FAH UIN Sunan Ampel, Surabaya): menghasilkan sekira 40.545 gambar dari 302 judul manuskrip asal tiga pesantren di Jawa Timur, yakni: Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Pondok Pesantren Tarbiyyah al-Thalabah, Keranji, dan Pondok Pesantren Tegalsari, Jetis Ponorogo

EAP117(2007): “Digitising ‘sacred heirloom’ in private collections in Kerinci, Sumatra, Indonesia” (Dr. Ulrich Kozok, University of Hawaii at Manoa): mendigitalkan 65 koleksi manuskrip warisan kebudayaan Jambi, termasuk manuskrip Undang-Undang Tanjung Tanah, yang diyakini sebagai manuskrip Melayu tertua pra Islam (abad 14).

EAP144 (2007): “The digitisation of Minangkabau’s manuscript collections in Suraus” (Dr. Zuriati [alm]), mantan dosen FIB Universitas Andalas, Padang): mendigitalkan 23 manuskrip yang berasal dari 5 surau di Sumatra Barat, yakni Surau Bintungan Tinggi, Lubuk Ipuh, Pariangan, Tanjung, dan Surau Malalo.

EAP153 (2007): “Riau manuscript: the gateway to the Malay intellectual world” (Prof. Dr. Jan van der Putten, saat itu peneliti di University of Singapore, sekarang professor di Hamburg University, Jerman): mendigitalkan 13 koleksi manuskrip dari 4 lokasi yang berbeda-beda, atau sekira 8000 gambar dari 450 teks.

EAP 205 (2008): “Endangered manuscript of Western Sumatra. Collections of Sufi brotherhood” (Dr. Irina Katkova, peneliti lepas asal Rusia, bekerja sama dengan Dr. Pramono, FIB Unand Padang): mendigitalkan sekira 100 manuskrip dari 7 koleksi pribadi dan 8 surau di Sumatra Barat.

EAP211 (2009): “Digitising Cirebon manusctipts” (Andi Bahrudin [alm]): mendigitalkan sekira 17.361 halaman dari 176 manuskrip koleksi pribadi dan koleksi kraton-kraton di Cirebon.

EAP212 (2008): “Preserving the endangered manuscripts of the Legacy of the Sultanate of Buton, South-Eastern Sulawesi Province, Indonesia” (Dr. Suryadi, Leiden University): mendigitalkan sekira 100 manuskrip dari 6 koleksi pribadi di Buton.

EAP229 (2008): “Achenese manuscripts in danger of extinction: identifying and preserving collections located in Pidie and Aceh Besar regencies” (Dr. Fakhriati, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Kemenag). Ini adalah proyek pendahuluan (pilot project) yang mengidentifikasi 404 manuskrip koleksi pribadi di Pidie dan Aceh Besar, serta mendigitalkan 10 contoh manuskrip di antaranya.

EAP276 (2009): “Documentation and preservation of Ambon manuscripts” (Prof. Dr. Titik Pudjiastuti, FIB UI Depok): mendigitalkan 182 manuskrip dari desa Hila, Hitu Lama, Hitu Messeng, Kaitetu, Morella dan Seith di Ambon, serta desa Kabau dan Pelalu di Kepulauan Haruku.

EAP280 (2009): “Retrieving heritage: rare old Javanese and old Sundanese manuscripts from West Java” (Dr. Andrea Acri, Leiden University): mendigitalkan 28 manuskrip lontar dari Garut dan sekitarnya.

EAP329 (2009): kelanjutan dari Proyek EAP229 oleh peneliti yang sama, berhasil mendigitalkan 483 manuskrip dari Pidie dan Aceh Besar.

EAP352 (2010): “Endangered manuscript of Western Sumatra and the province of Jambi: Collections of Sufi Brotherhood” (Dr. Irina Katkova). Tidak ada keterangan dalam web EAP tentang hasil dari Proyek ini.

EAP365 (2010): “Preservation of Makassarese lontara’ pilot project” (Dr. Anthony Jukes, La Trobe University)”: mendigitalkan sejumlah manuskrip lontara dari koleksi pribadi di wilayah pinggiran Makassar.

Dari 13 proyek digitalisasi yang didanai oleh EAP di atas saja, kita sekarang bisa mengira-ngira berapa ribu manuskrip Nusantara yang puluhan ribu halamannya kini dapat diakses oleh khalayak luas. Pertanyaannya, siapa sesungguhnya pembaca manuskrip-manuskrip tersebut? Apakah dengan tersedianya sumber-sumber primer tersebut kajian naskah Nusantara semakin berkembang? Apakah kesarjanaan di bidang Filologi Indonesia semakin meningkat?

Saya dapat mengatakan bahwa jawabannya: belum! Proyek digitalisasi yang cukup malah itu memang belum berhasil meningkatkan secara berlipat-lipat minat kajian terhadap naskah-naskah Nusantara. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk menciptakan masyarakat bacanya (mahasiswa, peneliti) yang dapat memanfaatkan naskah-naskah digital tersebut. Semoga!

Penulis adalah Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Umum Manassa (2008-2016)

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage