Yulizal Yunus: Sang Perintis Pelacak Manuskrip di Minangkabau

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

November 30, 2017

Yulizal Yunus: Sang Perintis Pelacak Manuskrip di Minangkabau

Yulizal Yunus: Sang Perintis Pelacak Manuskrip di Minangkabau

Bagi kalangan pegiat adat dan budaya di Minangkabau, nama Yulizal Yunus sudah tidak asing lagi. Selain bertugas sebagai Dosen Kesusastraan di Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Imam Bonjol Padang, beliau juga aktif di beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintahan Daerah Provinsi Sumatera Barat. Namun, siapa tahu, ternyata jauh sebelum pegiat naskah kuno di Sumatera Barat melakukan ‘perburuan’, lelaki kelahiran Tanjung Kandis, sebuah desa kecil di Kecamatan Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan 55 tahun silam ini, telah lebih dahulu menelusurinya. Hanya saja, beliau melakukannya untuk kepentingan sendiri karena bidang penelitian beliau saat ini adalah tentang jaringan ulama di Minangkabau.

Berawal dari ketertarikan beliau tentang hasil kebudayaan lama yaitu manuskrip, pada tahun 1980, bersama seorang teman, Sanusi Latief, beliau bergerilya menelusuri setiap penjuru ranah Minangkabau untuk menemukan jejak sejarah di masa silam. Pada tahun tersebut, selain berprofesi sebagai wartawan dan aktif menulis di beberapa media daerah dan nasional, beliau menjadi bagian dari sebuah lembaga yang cukup berperan dalam pergerakan Islam, yaitu Islamic Centre Sumatera Barat (saat ini adalah Masjid Nurul Iman Kota Padang). Saat itu, Islamic Centre dikepalai oleh Sanusi Latief yang juga menjabat sebagai Rektor IAIN Imam Bonjol, sedangkan Yulizal Yunus sebagai Ketua Sekretariatnya. Sebagai rekan seperjalanan, Yulizal Yunus yang akrab disapa Yuyu ini, setia menemani penelusuran jejak sejarah Islam Minangkabau yang akan dijadikan Sanusi sebagai sebuah disertasi. Asumsi awal, keberadaan manuskrip di Minangkabau merupakan hasil perdebatan pemikiran kaum Tua dan kaum muda.

Surau Ulakan, tempat Syekh Burhanuddin menyebarkan agama Islam dengan Tarikat Syattariyah adalah awal pencarianya. Sejak tahun 1981, skriptorium ini sudah sangat ramai oleh para peziarah. Di lapak-lapak di sekitar surau, banyak dijual paco-paco atau bacaan ringan yang telah ditransliterasi ke aksara Latin yang berisi tentang mujarobat, nazam, bahkan jimat-jimat tradisional. Hampir keseluruhan paco-paco dijual bebas. Namun, surau atau masjid ini menyimpan hasil kekayaan yang sangat banyak. Beribu manuskrip tersimpan di dalam surau, hasil tulisan Syekh Burhanuddin. Beliau melakukan penelaahan dan pembacaan untuk beberapa manuskrip dan selanjutnya melanjutkan perjalanan.

Skriptorium kedua yang beliau kunjungi adalah daerah Calau, Sijunjung. Saat itu, beliau mengunjungi surau Calau dan menemukan hal yang spektakuler. Di sebuah kamar di surau terdapat lautan manuskrip peninggalan Syekh Abdul Wahab Calau. Dengan seizin pewaris naskah, seorang yang beliau panggil dengan sebutan ‘buya’, Yuyu dan Sanusi Latief diijinkan untuk melakukan penelusuran sumber di lautan naskah tersebut. Pernah terniat untuk membawa beberapa kitab ke Padang, namun hal ini beliau urungkan karena menghormati peninggalan sejarah tersebut.

Perjalanan selanjutnya adalah Maninjau, sebuah desa di Kabupaten Agam, tempat lahirnya Buya Hamka. Dua sekawan ini mengunjungi surau Buya Hamka, atau ayah dari Buya Hamka. Di tempat ini, beliau pun menemukan hal yang sama. ribuan kitab dan naskah kuno menanti penggarapnya. Beberapa naskah dan kitab di skriptorium ini sempat dibawa ke Padang, namun menurut Yuyu, telah dikembalikan.

Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan lokasi selanjutnya yang beliau kunjungi. Di daerah ini, tersebar ulama-ulama besar Minangkabau berikut dengan karya-karyanya, antara lain Syekh Abdul Wahab Tabek Gadang di Tabek Gadang, Syekh Abbas Abdullah Padang Japang di Padang Japang, Syekh Datuak di Batu Tajua, dan Syekh Abdurrahman Batu Hampar di Batu Hampar. Keseluruhan lokasi tersebut beliau kunjungi dan mendapatkan informasi tentang jejak sejarah berupa manuskrip-manuskrip kekayaan pemikiran ulama di Minangkabau.

Perjalanan dilanjutkan ke Kabupaten Agam seperti di Canduang, dan Kamang serta di pusat tarekat Naqsyabandiyah di kawasan Agam peninggalan Syekh Yunus Yahya. Kawasan ini merupakan kawasan yang paling ramai pengunjungnya. Uniknya, di Kamang, rekan seperjalanan Yuyu, Sanusi Latief, menemukan sebuah Naskah Jimat Kamang yang melegenda. Di luar kepentingan penelitiannya, beliau melakukan penelusuran hingga ke Belanda dan menemukan salinan aslinya. Dari hasil perjalanan dan penelusuran beliau tersebut, bersama rekan-rekan lainnya, terlahirlah sebuah buku Riwayat Hidup dan Perjalanan 20 Ulama Besar Sumatera Barat yang diterbitkan oleh Islamic Centre Sumatera Barat pada tahun 1981.

Perjalanan panjang yang dituturkan beliau kepada saya, semata hanyalah untuk kepuasan ilmu pengetahuan tanpa keinginan untuk dikenal. Di beberapa karya yang beliau perlihatkan, saya menemukan sebuah pendeksripsian naskah sederhana yang beliau susun pada tahun 1984 dan saya sebut sebagai sebuah katalog naskah kecil-kecilan. Sebagai sosok di balik layar, begitu beliau menggambarkan, tidak dikenal pun tidak masalah asalkan ilmu dan hasrat terhadap naskah ini tersalurkan.

Saat ini, penemuan hebat beliau adalah hasil penelusuran di tujuh peninggalan kerajaan Dharmasraya, yaitu Siguntur, Sitiung, Padang Laweh, Pulau Punjung, Koto Besar, Sungai Dareh, dan Sungai Kambuih. Analisis beliau menyatakan bahwa kerajaan Sitiung inilah cikal bakal Kerajaan besar di Mingkabau, yaitu Pagaruyung. Hal ini akan diceritakan dalam tulisan yang berbeda.

Kejadian yang sempat membuat saya terkejut adalah tuturan beliau tentang peristiwa antara tahun 1986-1987. Pada saat itu, Islamic Centre Sumatera Barat mengalami pemugaran. Di suatu malam, seluruh koleksi perpustakaan Islamic Centre dijemput dengan sebuah truk. Menurut sumber, penjemputan buku adalah instruksi dari pengurus. Namun, hal ini tidak benar adanya. Ratusan buku, kitab, dan manuskrip hasil pencarian selama enam tahun, hilang tak berbekas. Dengan mata berkaca-kaca beliau bercerita, hingga kini, hal ini masih menjadi misteri dan inilah yang membuat semangat beliau patah dalam pencarian naskah. Untungnya, penelitian yang dilakukan Sanusi Latief untuk kepentingan disertasinya, telah selesai. Sungguh, tiada mujur yang semalang ini.

Pewawancara adalah Yulfira Riza, Dosen Mata Kuliah Filologi di Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Imam Bonjol Padang.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage