The Arrival and Integration of The Malays in South Sulawesi Around 15th-17th Centuries Based on Lontara Sources

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

November 24, 2017

The Arrival and Integration of The Malays in South Sulawesi Around 15th-17th Centuries Based on Lontara Sources

The Arrival and Integration of The Malays in South Sulawesi Around 15th-17th Centuries Based on Lontara Sources

Muhlis Hadrawi

Disertasi berjudul “The Arrival and Integration of The Malays in South Sulawesi Around The 15th – 17th Centuries Based on Lontara Sources” secara khusus membincangkan kehadiran dan integrasi orang-orang Melayu di Sulawesi Selatan sekitar abad ke-15 sampai ke-17. Kajian disetasi ini berdasarkan pada sumber informasi pribumi dengan menggunakan dua belas naskah lontara Bugis dan Makassar. Naskhah lontara yang digunakan terbagi ke dalam tiga korpus yaitu Lontara Attoriolong, Lontara Bilang dan La Galigo. Dua belas lontara tersebut merupakan koleksi pada Kantor Badan Arsip dan Perpustakaan Republik Indonesia Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan (ANRIM), Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan (YKSS), Laboratorium Naskhah UNHAS, dan koleksi Muhammad Salim. Naskah-naskah yang terpilih sebagai sumber data kemudian dilakukan kritik teks yang berdasarkan kaidah-kaidah filologis.

Korpus attoriolong sebagai sumber rujukan utama adalah kelompok naskah yang mengandung teks sejarah kerajaan-kerajaan lokal Bugis dan Makassar. Teks-teks Attoriolong mengandung kisah-kisah yang berkaitan dengan Melayu seperti nama tokoh, perkawinan, silsilah, perdagangan, pelayaran, dan lain-lain. Perhatian secara khusus ditujukan pada bagian-bagian atau fragmenfragmen teks yang berhubungan dengan keberadaan orang Melayu di wilayah Sulawesi Selatan. Informasi dari sumber lontara itu kemudian diselaraskan dengan hasil kajian-kajian ilmiah yang sudah diterbitkan, selain dengan sumber riset arkeologi dan lisan yang diperoleh.

Melalui kajian ini, naskah lontara telah ditunjukkan kedudukannya sebagai salah satu sumber penting bagi studi sejarah, sosial, dan budaya etnika Indonesia. Dikatakan seperti itu karena naskah lontara turut mencatat secara jujur dan polos pelbagai peristiwa penting terkait keberadaan dan sejarah diaspora orang Melayu di Sulawesi Selatan, selain integrasinya dengan orang Bugis-Makassar. Disertasi ini mengulas kandungan naskah secara multidisipliner terutama pada dimensi sejarah, antropologi, dan sosiologi dengan menyoroti fenomena diaspora dan integrasi sosial-budaya orang Melayu dengan Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan pada abad ke-15 sampai ke-17. Kajian ini memiliki sisi penting mengenai proses dan model integrasi antarsuku-bangsa di Nusantara khsuusnya antara Melayu dan Bugis yang berlandaskan pada hubungan perkawinan, kerjasama ekonomi, politik, dan budaya.

Kajian yang dilakukan mengemukakan bahwa orang Melayu Melaka merupakan pendatang terawal mendarat di Suppa' pada pertengahan abad XV, datang karena urusan perdagangan, tradisi merantau dan pergolakan politik di sekitar Selat Melaka. Kejayaan integrasi orang Melaka sebagai perintis kehadiran orang Melayu di Sulawesi Selatan, kemudian menjadi daya tarik bagi orang Melayu yang lain seperti dari Johor, Minangkabau, Champa, Pahang dan Pattani. Destinasi orang Melayu di Sulawesi Selatan adalah pelabuhan terutamanya di wilayah Suppa', Pancana-Tanete, Siang, Tallo, Sanrabone dan Gowa.

Kedatangan orang Melayu sejak abad ke-15 berkelanjutan hingga memasuki pertengahan abad ke-17. Mereka datang atas urusan pelayaran, perniagaan, kunjungan persahabatan, melakukan syiar Islam, selain sebagai pelarian politik. Kehidupan yang mereka bina di berbagai perkampungan rantau di Sulawesi Selatan berlangsung baik. Mereka, tidak saja telah tersebar di banyak tempat diSulawesi Selatan, tetapi juga berintegrasi dengan baik dengan masyarakat lokal. Di antara mereka ada yang berintegrasi melalui perkahwinan dengan golongan elit, sementara yang lain dengan golongan orang (Bugis-Makassar) biasa. Kerana keistimewaan, kepakaran dan pengalaman yang dimiliki oleh orang Melayu sehingga telah lahir fenomena sosial yang nyata yaitu orang Melayu telah melebur menjadi orang Bugis-Makassar.

Dosen FIB-Universitas Hasanuddin, Ketua Manassa Cabang Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dapat dihubungi melalui muhlisbugis@yahoo.com & muhlishadrawi@unhas.ac.id

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage