Syattariyah Wa Muhammadiyah: Suntingan Teks, Terjemahan, dan Analisis Karakteristik Syatariyah di Keraton Keprabonan Cirebon pada Akhir Abad Ke-19

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

November 23, 2017

Syattariyah Wa Muhammadiyah: Suntingan Teks, Terjemahan, dan Analisis Karakteristik Syatariyah di Keraton Keprabonan Cirebon pada Akhir Abad Ke-19

Syattariyah Wa Muhammadiyah: Suntingan Teks, Terjemahan, dan Analisis Karakteristik Syatariyah di Keraton Keprabonan Cirebon pada Akhir Abad Ke-19

Mahrus

Naskah yang diteliti berjudul Syatariyah Wa Muhamadiyah (SWM), sebuah naskah yang berisi ajaran Syatariah di Cirebon yang ditulis dalam aksara pegon Cirebon. Tujuan utama penelitian ini adalah menyajikan edisi teks. Dengan demikian akan tersedia sumber primer tentang Islam di Cirebon. Selanjutnya, dilakukan kajian terhadap karakteristik ajaran Syatariyah Muhamadiyah di keraton Kaprabonan. Kajian dilakukan dari segi aksara, ilustrasi, silsilah, ajaran, dan jaringan.

Keberadaan Tarekat Syatariyah Muhammadiyah di Kaprabonan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial politik keraton Cirebon pada abad XVII-XIX. Cirebon mempunyai posisi strategis secara politik, agama, dan kebudayaan. Pada saat itu, Cirebon telah dikenal sebagai salah satu bandar jalur sutra. Dalam aspek keislaman, Cirebon selalu dihubungkan dengan perkembangan Islam di Jawa.

Salah satu pengaruh tradisi pesantren itu berkaitan dengan adanya naskah-naskah keraton Cirebon, khususnya di keraton Kaprabonan, adalah naskah Tarekat Syatariyah. Tumbuh kembangnya Tarekat Syatariyah juga dapat ditelusuri dari naskah-naskah yang masih ada. Berdasarkan kajian atas naskah-naskah Syatariyah, ternyata ditemukan variasi Tarekat Syatariyah, yaitu Syatariyah Naqsabandiyah, Syatariyah Rifaiyah dan Syatariyah Muhamadiyah.

Kajian terhadap teks Syatariyah Muhammadiyah yang dilakukan dengan pendekatan filologi dan tasawuf ini menunjukkan bahwa teks Syatariyah Muhammadiyah mempunyai ciri khas lokal. Ciri khas lokal terdapat pada aksara pegon yang menggunakan bahasa Jawa dialek Cirebon dan ilustrasi tiga ikan satu kepala. Ciri khas lokal tersebut menjadi pembeda Syatariyah di Cirebon dengan Syatariyah di Nusantara, terutama berkait dengan sejarah Islam di Cirebon melalui keraton Kaprabonan.

Di antara karakteristik Syatariyah di Cirebon yang terdapat dalam naskah SWM; pertama, aksara pegon dapat menjadi ciri khas keislaman di keraton sesuai dengan pengaruh tradisi pesantren Cirebon. Berdasarkan penggunaan kata, teks SWM lebih condong pada bahasa Jawa dialek Cirebon. Pegon ini merupakan tradisi pesantren yang terus menerus dikembangkan di keraton, terutama di pengguron Kaprabonan.

Kedua, meskipun ilustrasi trimina bukan satu-satunya khas ilustrasi dari Cirebon, tetapi ilustrasi lafal dan trimina sebagai ekspresi ajaran Syatariyah dapat disebut sebagai pribumisasi Syatariyah di Cirebon. Ketiga, silsilah yang menjadi pembeda Syatariyah di Kaprabonan terlihat pada silsilah Abdullah bin Abdul Qahhar yang tidak melalui jalur Kiai Asy'ari dan Abdurrauf as-Singkil. Titik temu silsilah Syatariyah Kaprabonan dengan Syatariyah lain di Cirebon berada pada Syaikh Ahmad Qusyasyi atau 'Alam ar-Rabbani.

Keempat, jaringan naskah Syatariyah dengan ilustrasi trimina dan silsilah Abdullah bin Abdul Qahhar dapat menjadi penanda baru penyebaran naskah keagamaan. Ciri khas Syatariyah Cirebon dengan jalur silsilah Abdullah bin Abdul Qahhar menjadi tokoh yang penting dalam kajian Syatariyah dengan tarekat-tarekat lainnya, tidak hanya di Cirebon, tetapi juga di Lamongan, Ngawi Jawa Timur, dan daerah lainnya, termasuk di Asia Tenggara, seperti Mindanao.

Ciri khas lain dari Syatariyah Kaprabonan Cirebon pada teks SWM adalah adanya suluk iwak telu sirah sanunggal dan lam alif sebagai sarana untuk memperoleh jalan pemahaman ajarannya menuju rida Allah Swt. Penyebutan Tarekat Muhammadiyah dalam teks SWM identik dengan martabat tujuh, sebagaimana Syatariyah yang berkembang di Jawa, antara lain melalui Wirid Hidayat Jati, Sekar Macapat, dan Serat Centini. Tarekat Muhammadiyah adalah nur Muhammadiyah. Cara untuk memperoleh nur Muhammad melalui martabat tujuh: ahadiyah, wahdah, wahidiyah, 'alam arwah, 'alam ajsam, 'alam misal, dan insan kamil.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage