Pelatihan Digitalisasi Naskah IAIN Surakarta

Manassa
0
Pelatihan Digitalisasi Naskah IAIN Surakarta

Dalam sambutannya, Kepala PUSMI atau Pusat Studi Manuskrip Islam IAIN Surakarta, Dr. Ismail Yahya, MA mengatakan bahwa dengan tema “Merawat Masa Lalu untuk Masa Depan yang Lebih Baik”, pelaksanaan PELATIHAN DIGITALISASI NASKAH ini penting untuk dilakukan untuk membekali SDM Filologi dalam digitalisasi naskah kuno. Bertempat di ruang pertemuan Fakultas Syariah IAIN Surakarta, kegiatan selama satu hari ini yaitu tanggal 24 Mei 2017, sangat mungkin dilaksanakan atas kesediaan pemateri yaitu Drs. Alfan Firmanto, M.Si dari Pusat Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Para peserta pelatihan terdiri atas dosen dan mahasiswa dari beberapa kampus yang ada di Jawa Tengah seperti Universitas Sebelas Maret, Universitas Diponegoro, Universitas Veteran Surakarta, dan IAIN Surakarta sendiri.

Dalam pemaparannya, Drs. Alfan Firmanto, M. Si mengatakan bahwa naskah-naskah klasik keagamaan merupakan khazanah budaya Nusantara yang sangat penting, utamanya dalam bidang sejarah. Naskah merupakan salah satu sumber sejarah yang sangat penting dalam berbagai aspek antara lain politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, hukum, dan lektur keagamaan.

Dalam hal ini naskah merupakan dokumen dan media komunikasi yang sesuai dengan konteks zamannya, karena naskah menyampaikan pesan atau pernyataan pikiran baik dari perorangan atau kelompok penulisnya. Dalam beberapa hal, naskah juga dapat menjadi sumber identititas sebuah negara, bahkan dapat pula menaikkan gengsi atau derajat seseorang di dalam masyarakatnya, seperti terjadi di Malaysia dan Brunei.

Dari ribuan naskah-naskah klasik yang ada di tangan mayarakat kondisinya sangat memprihatinkan, terabaikan, rusak, dan hilang. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya kondisi tersebut. Pertama, faktor manusia yang tidak memiliki kesadaran terhadap pentingnya naskah, sehingga terabaikan, bahkan sebagian sudah banyak yang dijual ke luar negeri, rendahnya kesadaran itu pula yang menyebabkan sarana konservasi di lembaga-lembaga pemerintah tidak memadai. Kedua, faktor alam, seperti bencana alam (tsunami, banjir, gempa bumi dan lain-lain), iklim di Indonesia yang memiliki kelembaban yang tinggi menyebabkan naskah menjadi mudah lapuk, binatang pengerat seperti rayap juga merupakan ancaman bagi naskah.

Dengan kondisi dan penanganan naskah yang masih memprihatinkan, maka konservasi naskah klasik yang ada di masyarakat sangat mendesak untuk segera dilakukan. Jika kelestarian naskah terjadi akan dapat membuka akses bagi penelitian dan pengkajian, dengan penanganan yang proporsional dan professional, maka kelestarian naskah dapat tetap terjaga. Konservasi ada dua macam yaitu pada:
  1. Fisik, yaitu penanganan pada aspek alas naskah dengan mengadakan: (a) perbaikan dan (b) penyimpanan.
  2. Non fisik (teks), yaitu melalui: (a) alih media digital seperti foto digital dan scanner; (b) alih media non digital seperti mikrofilm, cetak, dan foto copy.

Fokus pelatihan ini terletak pada konservasi non-fisik atas teks melalui alih media digital berupa foto digital. Dari sisi alat ditetapkan dengan penggunaan kamera jenis Digital SLR, menggunakan kamera Canon tipe 1000 D, dengan lensa Canon zoom 18-55 mm, maksimum 10 MP, serta pengadaan tripod yang jauh lebih baik dengan menggunakan Manfrotto tipe CX 190. 75 Cm. Dari segi format hasil ditetapkan foto harus berformat file RAW, maksimum 10 MP, 350 DPI, 24 bit RGB.

Untuk dapat menghasilkan sebuah karya fotografi yang baik, selain peralatan, pemahaman terhadap objek fotografi juga menjadi sangat penting. Dalam fotografi digital untuk konservasi naskah-naskah klasik, fotografer sebaiknya memahami aspek-aspek kodikologi dalam kajian naskah. Pemahaman fotografer tentang kodikologi akan berdampak baik pada penanganan naskahnya.

Dari sisi teknis fotografi, memotret naskah relatif lebih mudah, karena obyeknya tetap dan tidak bergerak (fix object), dibanding dengan memotret obyek yang bergerak seperti alam, manusia, hewan dan lain-lain. Karena pengaturan fokus, pencahayaan, kecepatan rana, dapat diatur dalam komposisi yang sesuai dengan kondisi di lapangan, tetapi tanpa pemahaman terhadap kodikologi akan berdampak pada salah perlakuan dan penanganan, yang akibatnya justru dapat merusak fisik naskah, atau akan menyulitkan bagi para pengkaji dan peneliti naskah (filolog) ketika ada informasi penting yang hilang, atau informasi yang dikehendakinya tidak sesuai dengan yang diharapkan secara kodikologis.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam memotret naskah klasik adalah:
  1. Fotografer dalam hal ini juga konservator, bukan “tukang foto”, fotografer adalah pelestari naskah dengan keahlian tersendiri.
  2. Memperhatikan kondisi fisik naskah, apakah masih baik atau sudah sangat rusak/lapuk, diperlukan kehati-hatian yang tinggi.
  3. Jumlah halaman naskah apakah lengkap atau ada yang hilang, agar dapat dipastikan tidak ada halaman yang terlewatkan.
  4. Pastikan tidak ada kotoran, debu, potongan kertas yang menutupi teks naskah ketika difoto.
  5. Yakinkan bahwa pemotretan terhadap satu naskah hanya dapat dilakukan sekali saja dan akan bertahan seumur dunia, mengingat kondisi naskah rawan kerusakan.
  6. Pastikan penyimpanan hasil tidak hanya disimpan dalam satu tempat penyimpanan (storage), tetapi harus dilakukan penggandaan sesegera mungkin.

Sebagai perbandingan, standar format hasil digital oleh British Library adalah dengan format file TIFF (Tagged Image File Format), dengan ukuran piksel Manimum 10 MP, ketajaman 350 DPI, kedalaman warna 24 bit, penggunaan Tripod, penggunaan color checker untuk setiap naskah, pemotretan perhalaman naskah.

Sementara standar yang ditetapkan oleh Universitas Leipzig, yang berbeda ada dua hal yaitu: pertama, format file yang digunakan adalah RAW, sedangkan gambar yang diambil dua halaman kiri dan kanan. Sedangkan lainnya sama dengan British.

Dalam format pemotretan dua atau satu halaman masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Pada pemotretan satu halaman sebagaimana standar British, kelebihannya terletak pada resolusinya yang akan lebih padat dan baik jika diperbesar, sementara kelemahannya terletak pada kebutuhan waktu yang lebih lama, memori yang digunakan akan lebih boros, dan diperlukan kehati¬hatian yang lebih tinggi. Sedangkan untuk format dua halaman standar Leipzig. kelebihannya adalah bahwa resiko halaman yang terlewat kecil, lebih efisien dari segi waktu dan penyimpanan dalam memori.

Berdasar pengalaman, pendidikan dan penelusuran, maka Puslitbang Lektur Dan Khazanah Keagamaan Kemenag RI menggabungkan dari kedua format tersebut sejak mulai pertangan tahun 2009 lalu, dengan menggunakan standar format file RAW, serta menggunakan format pemotretan dua halaman.

Pertimbangan menggunakan file format RAW adalah merupakan data mentah terbaik, hampir tidak ada kelemahan dalam format file ini, format file yang fleksibel untuk pertukaran dokumen antar aplikasi dan platform, mampu menyimpan mode warna RGB, CMYK, dan Grayscale. Sedangkan format file TIFF lebih bagus untuk keperluan desain grafis dalam percetakan.

Setelah proses pemotretan selesai dilakukan, proses selanjutnya yaitu memindahkan, dan menggandakan atau copy data digital naskah ke dalam bentuk soft copy melalui cakram padat (CD/DVD), atau hard copy melalui print out. File data-data foto digital naskah sebaiknya diperbaharui setiap 5 tahun sekali ke dalam berbagai format penyimpanan data. Semakin banyak cadangan penyimpanan akan semakin baik dan aman bagi kelestarian data. (Ismail Yahya)
Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Oke!) #days=(20)

Website kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman anda. Check Now
Accept !