Syair Unggas, Anak-anak, dan Humor Toilet

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Maret 27, 2018

Syair Unggas, Anak-anak, dan Humor Toilet

Syair Unggas, Anak-anak, dan Humor Toilet

Syair Unggas Bersoal-Jawab
Kelanjutan Tradisi Naskah Melayu melalui Litografi

Catatan Aditia Gunawan

Seri kedua Diskusi Naskah Nusantara yang digagas Perpusnas dan Manassa kali ini menghadirkan Prof. Dr. Edwin Wieringa, guru besar studi islam dan filologi di Universitas Koln, Jerman. Biasanya, saya membacakan daftar riwayat hidup pembicara sebelum diskusi berlangsung, masalahnya, kertas riwayat hidup yang saya pegang itu setebal sebelas halaman A4 satu spasi, yang dipenuhi oleh daftar judul karya tulis Edwin Wieringa yang ditulis dari kurun waktu tahun 80-an akhir sampai tahun 2012. Artikel-artikel yang ditulisnya dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Indonesia itu bukan hanya menyentuh segala aspek dari naskah atau teks, tapi juga tradisi naskah dari berbagai wilayah di Indonesia. Dengan fasih ia membicarakan karya Aceh dan kolonialisme, humor-humor dalam sastra Melayu, ajaran Islam dalam naskah Jawa, atau bahkan tentang syiah dalam teks Sunda.

Dalam diskusi yang diselenggarakan tanggal 28 Februari 2018 ini, Edwin Wieringa membicarakan sebuah sajak naratif yang berjudul Syair Unggas Bersoal-Jawab (SUBJ), karya yang sangat populer di kawasan Asia Tenggara, terutama masyarakat Melayu, pada abad ke-19. Naskahnya tersebar luas di berbagai pelosok, sementara buku cetak batunya dicetak ulang beberapa kali. Meski demikian, menurut buku akademik mengenai sejarah sastra Melayu, teks tersebut dianggap tidak bermutu tinggi. Edwin Wieringa bicara untuk ‘menggugat’ anggapan ini.

* * * * *

Ialah Philippus Samuel Van Ronkel (1870-1954), ahli Melayu tersohor yang mulai memberikan pandangan negartif terhadap karya ini. Sarjana ini beranggapan bahwa SUBJ merupakan adaptasi kacau balau dari sebuah produk sastra Melayu yang kurang bermutu. Pada masa van Ronkel, karya-karya dari Asia Tenggara secara ipso facto selalu dianggap sebagai karya kelas kedua. Van Ronkel memang hidup di zaman kolonial, ketika Barat memandang Negara timur jauh di Asia sebagai warga kelas dua. Karya-karya yang dihasilkan dari wilayah ini selalu dicurigai orisinalitasnya. Pokoknya, haruslah ada sumber aslinya: entah dari Arab, India, atau Persia. Pokoknya, bukan buah tangan ‘murni’ orang Melayu.

Para ahli filologi pada masa kolonial berusaha memurnikan teks, mencari sebuah teks yang murni 24 karat. Begitu pun saat van Ronkel memandang Syair Unggas Bersoal-Jawab, ia mencari hulu teksnya. Ia membanding-bandingkan apel dan jus orange ketika ia membandingkan karya ini dengan Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) karya Farid Ud-Din Attar yang termashur itu. Padahal, menurut Edwin Wieringa, burung adalah makhluk paling mencolok di lingkungan kita dan selalu menjadi inspirasi bagi penyair. Penyair mana yang tidak pernah memuat burung dalam puisi-puisinya? Bahkan, saya ingat bahwa penyair Kakawin Ramayana (sekitar abad ke-9) pun memuat allegori tentang burung dalam sarga 24 dan 25.

Penilaian negatif seorang sarjana besar seperti van Ronkel belum tentu benar. Pada kenyataannya, karya ini begitu diminati di seantero dunia Melayu. Bahkan karya ini disebut Proudfoot sebagai “…ten most frequently reissued titles of Singapore Muslim Malay printing in the second half of the 19th century” (Proudfoot, 1993). Naskahnya tersebar dimana-mana (satu naskah ditemukan di Srilanka), malah cetak batunya (Litografi) dicetak selama delapan kali di Singapura dalam rentang waktu empat dekade (1871 dan 1914).

Sudah menjadi anggapan umum bahwa edisi cetak, dalam hal ini litografi, dianggap sebagai kelanjutan tradisi naskah, yang menandai sebuah kemajuan kualitas dibandingkan budaya manuskrip. Patut dicatat, dalam tradisi litografi, teks-teks diproduksi secara masal untuk kebutuhan komersial. Untung besar diharapkan. Akibatnya, kualitas beberapa terbitan cetak batu bahkan lebih anjlok dari naskah. Kertasnya mudah rapuh, kualitas tinta pada cetakan tidak merata karena batu yang digunakan mengalami deteriorasi.

* * * * *

Menimbang kemashurannya, dapatlah dikatakan bahwa Syair Unggas Bersoal-Jawab bukan lagi menjadi best-seller yang dihasilkan dari usaha marketing yang bombastis, tapi self-seller, yang digandrungi dan dibeli ramai-ramai semata-mata karena karya yang berkisah tentang burung-burung beraneka jenis berkumpul mendiskusikan masalah agama, memang diminati. Khalayak yang ditujunya adalah anak-anak, yang diharapkan memiliki dasar pengetahuan agama sebagai bekal di akhirat. Meski bersifat didaktis, rupanya karya ini juga memenuhi unsur dulce (indah) dan utile (berfaedah) yang telah terpatri dalam pikiran para ahli teori sastra. Mari simak bait berikut, yang persis hadir setelah kata bismillah.

Menyuratkan syair terlalu “indah”

Membaca dan menengar baik “faedah”

Kelebihan SUBJ lainnya adalah kecakapan pengarang menyelipkan humor yang cocok bagi anak-anak. Humor yang paling cocok salah satunya adalah skatologi. Bukan cabul, tetapi lebih terkait dengan “humor toilet”, yang kerap memancing tawa anak-anak. Situasi ini terlihat dalam dialog Sang Burung Merak yang mengelak saat ditanya pertanyaan sulit oleh para unggas.

Berkata pula si burung merak

Nanti dahulu jangan bergerak

Bapa lagi hendak terberak

Sekalian unggas habis bersorak

Selera humor anak-anak rupanya tidak berubah selama beberapa abad. Dalam artikelnya yang berjudul “Scatological Children‘s Humour” (2016), Sjaak van der Geest mengatakan bahwa “Shit and other ‘dirty’ bodily substances are the favourite topics for jokes among children, to be replaced by sex at a later age”. Melalui kepiawaiannya mengolah humor inilah kiranya karya ini cukup menghibur anak-anak pada zamannya.

Beberapa simpulan dapat ditarik dari diskusi kali ini. Pertama, Syair Unggas Bersoal-Jawab memang bukanlah karya sastra masterpiece jika dibandingkan dengan Mantiq At-Tayr di Persia, tetapi, karya ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk menjiplak karya agung tersebut. Kedua, perlu direnungkan kembali, apakah SUBJ dapat dikualifikasi sebagai ‘kesusasteraan’ sebagaimana pengertian modern. Mungkin karya ini tidak cocok dengan definisi Merriam-Webster tentang sifat sastra yang “…not merely informative”. Sebagian besar isi syair ini bersifat informatif, dikemas secara indah (dulce) agar publiknya, anak-anak, mendapatkan faedah (utile). Selayaknya, penilaian negatif terhadap karya ini, ditinggalkan.

Sampai jumpa dalam seri diskusi bulan depan.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage